Dalam benak sebuah suku-bangsa pribumi, menurut George Orwell (1984) mengungkapkan bahwa “ siapa yang mengusai masa lalu maka akan menguasai masa depan dan siapa yang menguasai masa kini akan mengguasai masa lalu “ .
Merupakan sebuah renungan panjang jika disingkronisasikan dengan istilah tempat didiami oleh suku-bangsa tertentu direkonstruksi tanpa memandang eksistensinya sebagai suku-bangsa memiliki jati diri. Padahal, seuku-bangsa tertentu Untuk membedakan diri dengan orang lain maka berbagai tempat diberikan nama sesuai pengalaman hidup yang telah dilalui masa lalu . Pemberiaan nama dalam satu wilayah bukanlah patut di politisir namun dimaknai. Ketidak adilan dilakukan oleh perintah rezim suharto juga reformasi ini nampak empirik dalam segi memberikan nama dalam suatu wilayah. terbukti pemberian nama tidak dipahami datau dimengerti oleh suatu suku-bangsa padahal pembagunan hendak dilaukan unutk suku-bangs a tersebut hal ini dapat diasumsikan bahwa sangat membunuh jati diri dari suku-bangsa sekitar sehingga hilanganya arah hidup; artinya, sejarah terjadinya tempat dilupakan guna mengkelabui sebuah fakta sejarah padahal sejarah merupakan tolak ukur masa depan.
Arti sebuah nama
Suku-bangsa yang mendiami satu wilayah dapat diletimasi bila ada tanda sebagai pemilik materi maupun non materi diwujudkan dalam sebuah nama. Nama yang diberikan dari suku bahasa setempat. Nama yang diberikan dilandasi dengan cerita, mitos ataupun legenda amat membantunya untuk mengakui eksistensinya diri sebagai pemilik sejarah, tanah, laut, juga tumbuhan dan lainya. penaman yang dimaksudkan oleh leluhur agar tidak terjadi kontraversi atas hak ulayat atau kepemilikan. Nilai dari sebuah nama adalah arti intergasi memperkokoh kolektifitas dari sesuku-bangsa asli lain juga bahwa arti dari nama sebagai jati diri dimana harkat dan martabat sebagai manusia yang berbudaya dilakkan agar diletimasi oleh suku-bangsa lain.
Arti sebuah nama patut di maknai bukan berdsarakan pandanga etik dari pengusa sbgai kaum mayor namun haru tunduk dan telusuri dari suku-bangsa setempat bebrapa waktu lalau (cepos ) gencar ada namanya Numbay. Semua orang pendatang heran dan bertanya apa arti nama numbay ? merupakan sebuah yang yang memiliki cerita yang memiliki esensi jati diri maka diberika nama sebagai lambing kepemilikiakan. Sudah hamper satu abad sku-bangsa asli di numbay di terlantarkan dengan arti sebuah nama Sebelum perang dunia II, saat Belanda mendarat di bumi Papua, Jayapura diberi nama "Hollandia", yang berarti daerah berbukitbukit dan berteluk. Saat itu daerah ini ditunjuk sebagai ibu kota "Dutch New Guinea". Setelah definitif kembali ke Indonesia pada 1 Mei 1963, sejak saat itu nama "Hollandia" menjadi "Kota Baru" (1963-1969), lalu "Sukarnopura" (1969-1975), dan akhirnya "Jayapura". pemerintah Indonesia dan belanda seakan di butakan oleh otak penguasaan wilayah karena zona ekologi yang amat strategis dimana berada diantara dua wilyaha dan di Jayapura yang terletak di bibir Teluk Yos Sudarso dan Teluk Yotefa akan disuguhkan pemandangan indah panorama alam yang berbukit-bukit serta hamparan lautan Pasifik berair biru jernih. Kekayaan alam yang demikian indah itu menawarkan obyek wisata menarik.
Kenangan I abad
Penamaan tersebut sebenarnya sebagai satu kelalaian dimana menimbulkan maksa persnofikasi bahwa sangat otoriter dimana tidak adanya pengakuan dan penghargaan terhadap suku bangsa sekitar yang notabenenya adalah manusia yang berbudaya memiliki tanah, laut, juga lainya sebagai tuan rumah fakta seakan menjawab lain nama kota ini “jayapura “ sekarang berulang kali ganti nama seprti pada awalnya port numbay, holandia lalu sukarno-pura,kota baru,dan jayapura.
Hal ini pemerintah amat membelenggu suku-bangsa asli secara psikoligis bahwa pemerintah berasumsikan agar hidupkan suku-bangsa di ambang pemusna dimana terlihat system marginalisasi yang amat berantai dirasakan dimana hutan sagu di dihancurkan guna membagun ruko, pasar, rumah dinas, kantor pemerintahan, dan lain suku-bangsa asli tersingkir entah dimana mereka sekarang yang terlihat hanyalah kenangan dulu masa depan generasi seakan para saudagar-saudagar pun tidak memandang harkat dan martabat suku-bangsa hanya mementingkan kekayaan dibanding nilai manusia notabenya suku-bangsa memiliki harga diri. Suku-bangsa boleh dikatakan harga diri sudah terjual dan dijual maka perlu penyadaran agar pengembalian semua harga diri.
sebagai masyarakat pendatang ingin menghargai jasa para pendahulu yang terutama suku-bangsa sekitar maka mesti diberikan penghargaan bukanlah segudang uang ataupun barang tapi hanya sebuah nama dari japura menjadi numbay . karean kata numbay memiliki esensi yang amat singnifikan.
dengan diberikan nama Jayapura diganti menjadi numby akan membangkitkan suku-bangsa untuk bangun temukan jati diri sebagai manusia yang dikaui harkat dan martabatny asebgai sebuah suku-bangsa pemilik daerah ibukota provinsi papua dan nanti temukan jalan dari kegelapan menuju terang dan jadi tuan atas negrinya sendiri.
Orang yang mengembalikan nama sebuah jati diri dari sebiah bangsa adalah orang yang memami masa lalu mendatangkan masa depan gemilang .
Semoga ..
Minggu, 31 Januari 2010
KONTRAVESI MAKNA ISTILAH JAYAPURA MESTI NUMBAY
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


0 Comments:
Post a Comment