Berbagai dilemma social yang kini melanda orang asli papua ditanah dan keakayan direbut secara paksa dibawa ancaman militerisme dan pemerintah sedang menjurus pada arah pembunuhan rakyat secara sistematis. Hal ini disinkronkan dengan study-study yang dilakukan oleh beberapa lembaga di tanah. Selain kesempatan Guru besar Sydney University Prof Win juga mengatakan orang papua ada dalam ancaman pemusnaan karena aksi-aksi dilakukan sangat biadapa oleh oknum-oknum tertentu;
Ada beberapa fakta juga membukti bahwa kejadian juga ramalan itu akna terajdi karena bukan hal baru namun seudah sejak dahulu terajdai seperti fakta-fakta yang berhasil diungkapkan karena kerja sama antara ELSHAM dan pihak gereja (Katholik, GKII dan GKI di Irian Jaya) masih terdapat sejumlah data kasar yang pertu diverifikasi lagi tentang berbagai bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Baik dalam peristiwa operasi militer di Manokwari (1965 sampai 1980-an), kasus operasi militer di Wamena (1970-1980-an) ,kasus Paniai (1969), serta berbagai kasus terbaru sepanjang tahun 1999 seperti di Manokwari, Sorong maupun Timika dan Nabire. Pembunuhan, penghilangan orang, pemerkosaan, pembantaian, pengrusakan kebuadayaan, perusakan lingkungan menjadi catatan tersendiri orang Papua ketika hendak berbicara tentang Indonesia. Ada ingatan indifidu dan kolektif tentang sejarah penderitaan yang memilukan. Dan ada di se-antero Papua.
Di Biak, pada penghujung tahun 1998, bersama sejumlah relawan ELSHAM mendatangi beberapa kampung di Biak Barat selama beberapa jam dan kepada kami ditunjukkan sekitar 10 buah kuburan massal berisi antara 3 sampai 10 orang yang setiap kuburannya. Pada waktu itu saya mendapatkan data kasar tentang kurang lebih 2000 kasus pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, penghilangan serta kasus ibu-ibu yang melahirkan karena perbuatan tentara. Data-data mana masih terus bertambah dan sedang dilakukan proses re-check tentang kebenarannya. Bahkan ketika angin reformasi berhembus, aksi damai rakyat pada bulan 2-6 Juli 1998 direspon dengan mengerahkan kekuatan POLRI dan militer dari darat maupun laut untuk menanganinya sehingga mengakibatkan sejumlah orang terbunuh, hilang, luka-luka parah dan sampai saat ini kami masih mencari kaitan antara operasi militer tanggal 6 Juli 1998 dengan penemuan sejumlah puluhan mayat misterius yang terdampar di Biak. Peristiwa ini dikenang sebagai Tragedi Biak Berdarah, 6. Juli 1998. pelanggaran HAM yang terjadi di dalam wilayah penambangan PT Freeport (1995) di mana terjadi pembunuhan, penghilangan, serta penyiksaan penduduk secara sangat serius. Kasus Freeport terjadi sebagai reaksi militer untuk melindungi Freeport sebagai industri vital. Saya pun terlibat dalam mengungkapkan aksi militer yang dilakukan terhadap masyarakat sipil di kampung Bella, Jilla dan Allama pada tahun 1998.
Intervensi militer Indonesia secara besar-besaran bermula di tahun 1970-an. Kebijakan DOM memporak-porandakan seluruh pranata social yang mendukung kehidupan cultural dan ekonom rakyat. Secara sistematis terjadi pelanggaran HAM sangat berat yang memenuhi syarat untuk di katakan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan (Crime Against Humanity). Ketika menyebut Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, maka pengertian yang saya maksud mengacu kepada Statute Mahkamah Internasional di mana Crime Against Humanity didefinisikan sebagai : ... a ,,widespread or systematic attack aginst any civllian population, with knowledge of the attack". The specific acts listed include murder, extermination, enslavement, and deportation. ... AIso imprisonment, torture, rape, and persecutions on polltical, raciaI, and religious ground. ,,(Lawywers Committee for Human Rights, FREQUENTLY ASKED QUESTION ABOUT THE INTERNATIONAL COUPT, December 1998, P 3.). Definisi Mahkamah Internasional mengantar kita keluar dari penyempitan pemaknaan kejahatan terhadap kemanusian, seolah kejahatan terhadap kemanusiaan terjadi hanya ketika jiwa manusia terenggut. Sesungguhnya cakupan pengertian kejahatan kemanusiaan melampaui pembunuhan.
Tanah Papua tidak butuh kodam
Kini lebih gencara dalam beberapa media local PANGDAM dengan percaya diri mengomentari kejadian-kejadian di papua karena aksi-aksi okum tidak dikenal semakain naik tinggi maka di butuhkan KODAM. Benar KODAM ? rakyat papua bukan criminal atau pengacau namun rakayt papua sungguh mengahargai nilai-nilai peri kemanusian terbukti dapat menerima setiap orang indoensia darai sabang samapi maluku ada di papau. Sesungguh Jakarta kedua ada di papua namun belum disadari. Ketidka percyaaan rakyat papau pada pemerintah republic indoensia di dsarakan atas tiga probelema yang sangat mendasar, yakni :
Pertama, rakyat Papua menganggap bahwa Act of Free Choice 1969 yang dirubah di Indonesia menjadi Musyawarah Penentuan Pendapat Rakyat sebagai realisasi dari New York Agreement 1962 merupakan bentuk konkrit pengabaian dunia internasional dan pemerintah Indonesia atas hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri. Proses penyusunan New York Agreement sama sekali tidak melibatkan orang Papua. PEPERA dijalankan di bawah proses penuh intimidasi, larangan berkumpul dan berbicara, penghilangan orang, pembunuhan dan berbagai bentuk tindakan militer yang menistai demokrasi. Seluruh aktivitas yang menjauhkan orang Papua dari realisasi haknya untuk menentukan nasib sendiri dalam pandangan orang Papua jelas-jelas melanggar kententuan Resolusi PBB No. 1 514 dan 1 541 tentang proses dekolonisasi bagi bangsa-bangsa yang dijajah.
Kedua, atas dasar status legal yang diberikan oleh PBB melalui Resolusi No. 2504/XXIV tahun 1969 yang mengesahkan hasil PEPERA maka secara de jure Irian Jaya menjadi wilayah kekuasaan Indonesia. Keberadaan Indonesia di Papua dilalui dengan penetapan Papua menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) untuk menunjang kebijakan pembangunan yang bertumpu pada strategy pertumbuhan ekonomi melalui pertambangan, HPH, transmigrasi, pariwisata dan berbagai proyek pembangunan lainnya. Kebijakan pembangunan yang berorientasi pada strategy pertumbuhan ekonomi itu berimplikasi pad aspek social budaya seperti perusakan lingkungan hidup, pengambilan tanah, penebangan hutan, pengrusakan dusun-dusun masyarakat, serta degradasi kebudayaan masyarakat setempat.
Ketiga, gabungan kedua permasalahan di atas menciptakan krisis identitas bagi orang Papua. Krisis identitas nampak dalam aspek kebudayaan, ekonomi, birokrasi pemerintahan, dan sebagainya. Maka muncul tuntutan untuk menghormati kebudayaan, pengembangan kebudayaan Papua Melanesia, Papunisasi birokrasi, penguasaan sumber daya ekonomi, maupun tuntutan agar pemerintah mengakui keberadaan lembaga adat.
Kesalahan sejarah (distorsi historis) yang terjadi melibatkan PBB dalam proses tranfer kewenangan dari Belanda ke Indonesia telah menjustifikasi negara Republik Indonesia untuk melakukan berbagai bentuk pelanggaran HAM berat di Papua Barat. Pemerintahan Indonesia, terutama di bawah kepemimpinan Soeharto menggunakan pendekatan kekuasaan yang sangat represif dan meninggalkan kisah sejarah yang sangat memilukan di seantero tanah Papua.
Akumulasi tiga persoalan besar di atas mendorong rakyat Papua melakukan protes dalam bentuk aksi bersenjata (OPM, sejak pemberotakan Ferry Awom di Manokwari, 28 Juli 1965), aksi penngungsian (terutama pasca PEPERA 1969 serta ketika terjadi sekitar 10.000 orang Papua mengungsi ke PNG pasca-pembunuhan Arnold Ap 1984), prokalamasi kemerdekaan Papua (versi Markas Victoria, 1 Juli 1971 maupun versi Thom Wanggai, 14 Desember 1988), demonstrasi mahasiswa, dan aksi pengibaran bendera Papua. Situasi bukan membaik. Kengerian makin bertambah ketika akumulasi protes diungkap, pemerintah menjawabnya dengan memberlakukan daerah operasi militer (DOM).
Seringkali, pihak pemerintah Indonesia menyatakan kesalahan masa lalu sebagai akibat salah urus. Di pihak militer, disebut salah prosedur. Namun jika melihat polanya yang berjalan sistematik, terencana dan mencakup hampir seluruh wilayah Papua Barat, maka dapatlah disimpulkan bahwa apa yang berlangsung di Papua Barat bukanlah dampak negatif dari satu proses salah urus. Tetapi nyata-nyata adalah suatu kejahatan terhadap kemanusiaan.
Butuh Dialog
Untuk menyelesaikan masalah-maslaah HAM di Papua dari pergolakan atau gegolak MILITERISME mesti bercermin kembali tentang nilai-nilai kemanusiaan. MILITER juga manusia tentu menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusian itu ada dalam DIALOG Maka kini fokus pandanga orang Papua ada dalam kerangka DIALOG . Pemerintah Jakarta jangan lagi bekerja secara kongkalingkong untuk gerakan MILITER untuk menguasai Papua karena bukan zamannya lagi. kini Pemerintah Indoensia harus sadari bahwa orang Papua sudah membuka diri untuk mau Berdialog. Jika DIALOG terjadi maka Papua merdeka tidak langsung terjadi kadang mimpi buruk MILITER jika teriak Papua Merdeka maka Papua akan Merdeka “Mimpi Siang Bolong” mendirikan satu Negara bukan satu hal yang sulit bagi orang papua. MILITER Indonesia yang miliki pengetahuan sempit maka temui orang terika merdeka langsung di tankap dan lain sebagainya hal yang akan diberkati oleh Tuhan.
Baca Selen9kapnya...
Rabu, 30 Desember 2009
PAPUA TANAH DOM
Diposting oleh KNPB di 01.49 0 komentar
Label: MILITERISME
Sabtu, 26 Desember 2009
MILITER TEMBAK KELIK KWALIK TEWAS AKAN ADA SERIBU KELIK KWALIK
Seorang ciptaan Tuhan “ Jendral Kelik Kwalik ” dalam kondisi fisiknya menganaskan “ Biji mata kiri telah hilang, otak kecil diambil atau dicopot, lidahnya di cabut, jantung dicopot & belakang dibela “ .
Kelik kwalik dicelehkan nama dan perjuanganya oleh Pemerintah Indonesia karena mengklaim bahwa ia seorang pemberontak atau pengacau keamanan sesungguhnya yang biasa melakukan kekacauan atau gangguan keamanan ditegah masyarakat Papua, siapa ? secara jujur dalam berbagai media menyebutkan bahwa dalang dari kekacauan di Freeport adalah Militer dan militer yang menewaskan beberapa karyawan dan warga Australia bukan masayarakat sipil.
Kelik walik adalah pemimpin Bangsa Papua barat dari daerah Amungsa atau Amugme (Kodap III) kurang lebih 25 tahun mempimpin perjuangan “Gerilya” tanpa mengenal rasa haus dan lapar semua dilakukan hanya untuk membebaskan bangsa Melanesia dari cengkraman maut “Genosida”. Aksi-aksi yang dilakukan oleh kelik kwalik adalah aksi penyelamatan. Kurang lebih 25 tahun alm Kelik Kwalik Melakukan aksi-aksi penyelamatan sangat mengherankan karena seorang yang melakukan aksi-aksi penyelamatan malah di bunuh dengan acara yang sangat tidak manusiawi. Perilaku binatang yang dipraktekkan oleh MILITER “Densus 88” amat memprihatinakan karena masuk menembak alm. Kelik Kwalik Tanpa memberikan tembakan peringatakan ataukan penangkapan sengaja di lakukan karena takut bangsa atau Negara Indonesia takut para pejuang penyelamatan dibelahan Negara lain turut menyerukan proses penyelamatan beliau dari terali besi.
Semua orang miliki Jiwa kepemimpinan untuk mewujudkan hidup adil, sejahtera dan benar adalah visi. Visi tersebut dapat terwujud dengan baik dan benar jika ada kepemimpinan. Bangsa Papua tidak mendapatkan keadilan, kesejahatraan, kekayaan alam di rampas, bahwakan dihancurkan oleh Bangsa Indonesia maupun bangsa barat seperti hal terjadi di Freeport dan kasus lainya. Untuk menuntut dan membebaskan rasa cengkraman itu maka lahirlah pemipim-pemipin papua seperti Kelik Kwalik, Tadeuys Yogi, dan Goliat Tabuni serta Moses Werror dan pempim lainya. Mereka adalah pemipim sejati yang terus melawan prakte-praktek kebiadaban moral di lakukan ole Negara kanobal ini “indonesia”.
Ketika mengajar di daerah pegunungan kala itu masih merasakan hak-hak atas hidup di rampas oleh MILITER dimana kehidupan masyarakat dibatai habis-habisan dengan membakar rumah, menembak masyarakt sipil, menyiksa dengan cara yang tidak manusiawi tepat 1960-an (baca buku cahaya bintang kejora,) semua peristiwa ini mendatang niat perlawanan dari masyarakat sipil Papua Barat karena maka dilahirkan satu oraganisasi Perjuangan Papua Barat (OPM) maka pergerakan kelik walik bangsa kanibal “Negara terroris” dindonesia negklaim bahwa kelik walik itu OPM. Ungkapan itu disambut resmi oleh bangsa papua barat dan kalik kwalik sudah ada di tataran Jendral.
Semua orang Papua mengetahui bahwa alm. Kelik Kwalik adalah Jendral pertama yang dibunuh oleh Negara tetangga (Indonesia) jangan dulu berbangga dengan perbuatan biadaap yang telah dilakukan karena akan ada seribu kelik kwalik di bumi Papua ini mungkin ini mimpi tapi akan jadi nyata dengan melihat proses perjuangan dan fenomena yang selama ini.
Baca Selen9kapnya...
Diposting oleh KNPB di 05.08 0 komentar
Label: POLITIK DAN DIPLOMASI

