Pertanyaan ini cukup penting sebab kunjungan yang dijadwalkan 11 Nopember 2010 itu terjadi ketika Presiden SBY sedang menghadapi banyak kritik dan hujatan di dalam negeri. Bahkan ada yang sudah lebih dari sebulan, menyuarakan penggulingan SBY melalui parlemen jalanan. Dengan kata lain, Presiden Obama secara sengaja mengesampingkan kritik dan hujatan tersebut. Obama seolah memperlihatkan dukungan konkrit melalui kunjungannya tersebut. Obama lebih melihat SBY sebagai Presiden RI yang akuntabel dan kredibel.
Sehingga sangat wajar apabila SBY menggunakan kunjungan Obama bagi pencitraan dirinya. SBY bisa mengatakan kepada mereka yang tidak menyukainya bahwa suka ataupun tidak suka, kepemimpinan yang dijalankannya justru mendapat penilaian positif dari sebuah negara besar yang memiliki demokrasi berkualitas.
Demikian sederhanakah menyimpulkan makna kunjungan Obama? Tentu tidak. Kunjungan Obama sebaliknya harus dilihat menggunakan kacamata berlensa khusus. Bila itu yang digunakan, hasilnya kemungkinan berbeda jauh.
Kunjungan Obama justru merupakan sebuah tamparan bagi SBY. Setidaknya, apabila dilihat dari cara memilih negara yang patut dikunjungi. Obama nampaknya benar-benar menggunakan berbagai pertimbangan dan masukan dari para staf secara terukur.
Jika Indonesia ditempatkan dalam perspektif keamanan, untuk standar AS, agaknya, termasuk salah satu wilayah tidak aman. Antara lain dipicu munculnya gerakan teroris dan kelompok anti AS.
Dibandingkan Belanda, negara yang tadinya hendak dikunjungi Presiden SBY awal bulan ini, secara kualitatif dan kuantitatif Indonesia jauh lebih berbahaya, jika konteksnya dikaitkan ancaman kelompok RMS terhadap SBY.
Jelas terlihat, dari sisi keberanian dan cara menganalisa ancaman antara Obama dan SBY sangat berbeda. Obama memiliki keberanian menghadapi risiko. Padahal sebagai seorang sipil, Obama lebih rentan terhadap ancaman risiko dibandingkan dengan SBY yang pernah dilatih khusus bagaimana menghadapi risiko kematian dalam sebuah peperangan.
Ini semua terkait keputusan SBY yang secara tiba-tiba membatalkan kunjunganya ke Belanda gara-gara ancaman kelompok RMS. Gerakan ini meminta penegak hukum menangkap Presiden SBY apabila ia sedang berada di Belanda. SBY dinilai pentolan RMS sebagai pemimpin Indonesia yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Maluku.
Kualitas ancaman RMS sangat rendah dibandingkan teroris di Indonesia. Kendati demikian, SBY merasa ancaman yang sangat serius dan berisiko.
Padahal meminjam ungkapan Taufiq Kiemas, sahabat SBY dalam panggung politik nasional, seorang pemimpin yang mati karena ditembak atau dibom ketika menjalankan tugas jauh lebih terhormat dibanding meninggal saat sedang tidur di atas kasur empuk.
Tentu saja mencermati makna kunjungan Obama tidak cukup bila hanya dari satu sisi. Sisi lain yang perlu dilihat adalah kunjungan Obama mengandung hal-hal yang lebih simbolik dan protokoler.
Bagi Obama, akan tidak produktif dan visioner apabila lawatannya di Asia tidak menyinggahi Indonesia. Setuju ataupun tidak setuju, Indonesia merupakan salah satu negara demokratis terbesar di Asia.
Substansi demokrasi inilah yang jauh lebih penting dibandingkan kritik dan hujatan terhadap Presiden SBY. Bahkan, Obama yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia, sesungguhnya ingin mendengar kritik dan hujatan itu dan melihat langsung siapa saja orang-orang yang tidak senang dengan kepemimpinan SBY.
Jika SBY terkesan menjadi pemimpin yang telinga tipis, Obama justru ingin memperlihatakan bahwa dia adalah pemimpin yang memiliki telinga tebal.
Sebagai manusia, SBY boleh meninggalkan panggung politik Indonesia, tetapi sebagai negara, sampai kapanpun, Indonesia tetap eksis sekalipun tanpa SBY. Inilah nampaknya pesan tersirat yang hendak disampaikan Obama lewat kunjungan tersebut. Washington juga tentu berhitung dengan mulai berubahnya kebijakan Indonesia dalam sistem pertahanan.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelum ada kepastian tentang kunjungan Obama ke Jakarta telah memastikan RI akan membeli pesawat tempur Rusia, merek Sukhoi hingga 180 buah.
Bagi Obama dan pembuat pesawat tempur di AS, kebijakan ini tentu saja merugikan citra AS. Sebab sebuah negara besar seperti Indonesia tidak lagi mempercayai kualitas produk AS. Sudah pasti dana miliaran dolar AS akan mengalir ke kantong-kantong industriawan Rusia.
Sehingga jika kalkulasi ini dimasukkan dalam analisa kunjungan Presiden Obama, semakin jelas bahwa kunjungan itu bukan dalam konteks untuk mendukung SBY.
Dari segi etika diplomasi dan protokoler tentu saja akan sangat janggal apabila Obama yang sudah tiga kali membatalkan rencana perjalanan ke Indonesia, lalu akhirnya benar-benar mempermanenkan pembatalan tersebut.
Rabu, 27 Oktober 2010
SBY AKAN MENDRAMAI RAKYAT INDONESIA HADAPAN OBAMA
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


0 Comments:
Post a Comment